Breaking News
Sepi Penonton, Ketua PSSI Berdalih Lawan Tak Terkenal Dan Akan Edukasi Supporter     Dipermalukan Indonesia, Pelatih Curacao: Di Laga Kedua Kami Tunjukkan Level Sesungguhnya     Rekor Fantastis Curacao vs Negara Asia, Tapi Indonesia Berpeluang Besar Cukur Curacao     ANALISIS | Kenapa Fachruddin Masih Dipanggil ke Timnas yang Makin Muda?     Elkan Baggott Berminat Bela Klub Indonesia, Tapi Setelah Mengejar Mimpi Di Inggris    
Tanya Kejelasan Gaji, Kontak di Abanda di Blacklist Manajemen
05 September 2020 | 06:15 WIB oleh Amirul Mukminin
Liga1 - @JawaPos.com ± 2 tahun yang lalu
158   x
Share on:
(Tanya Kejelasan Gaji, Kontak di Abanda di Blacklist Manajemen) - @JawaPos.com - Bambang pamungkas bersama Abdul Rahman Abanda
Keterangan gambar : Tanya Kejelasan Gaji, Kontak di Abanda di Blacklist Manajemen Bambang pamungkas bersama Abdul Rahman Abanda (Sumber gambar:@JawaPos.com)

Tagih Tunggakan Gaji, Nomor Kontak Abanda Malah Diblokir Kalteng Putra


Liga123 - Abanda Rahman pasrah ketika nomor kontaknya diblokir manajemen Kalteng Putra. Dia tidak tahu lagi harus bertanya ke mana perihal haknya ketika membela Laskar Isen Mulang musim lalu.


Terlebih lagi, pemain yang saat ini membela PSIS Semarang itu sempat takut Kalteng Putra lepas dari tanggung jawab setelah Liga 2 ditunda karena pandemi korona.


’’Kami semua dijanjikan dari November tahun lalu. Tapi, sampai sekarang tidak ada bukti. Kontak saya diblokir. Telepon tidak nyambung. Mereka semua lari dari tanggung jawab,’’ ucapnya kesal.
Beruntung, Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) akhirnya bergerak dengan menemui PT Liga Indonesia Baru (LIB) setelah Liga 2 secara resmi digulirkan lagi Oktober mendatang.


APPI mengingatkan bahwa Kalteng Putra termasuk dari lima klub yang sudah diputuskan NDRC tidak boleh mendaftarkan pemain dalam tiga periode jendela transfer jika tunggakan kepada eks pemainnya pada musim 2018 tidak dibayarkan.
Walau begitu, Abanda masih harap-harap cemas. Meski bersyukur di klubnya saat ini tidak ada permasalahan mengenai gaji, tetap saja dia masih membutuhkan haknya yang masih ditunggak di Kalteng Putra.


’’Itu hak saya. Harusnya memang saya wajib mendapatkan itu. Sekarang saya hanya berharap LIB, PSSI, dan komdis tegas atas keputusan yang sudah dijatuhkan NDRC. Agar ke depannya tidak ada masalah seperti ini lagi di Sepakbola Indonesia,’’ harapnya.


Hal senada dikatakan Dimas Galih, eks rekan seklub Abanda di Kalteng Putra. Saat ini, Galih mengaku terpaksa vokal lagi di media sosial ’’menyindir’’ Kalteng Putra karena merasa haknya belum dilunasi. ’’Ya saya minta secepatnya dilunasi. Agar saya bisa fokus lagi di pertandingan dan latihan bersama Persik Kediri,’’ ucapnya.
Galih menyadari situasi pandemi korona saat ini memang menghantam semua aspek. Termasuk klub Sepakbola di Indonesia. Tapi, itu bukan jadi alasan bagi Kalteng Putra untuk mangkir.


Sebab, Kalteng Putra seharusnya sudah melunasi haknya musim lalu. Bahkan sebelum kompetisi berakhir pada Liga 1 2018. ’’Saya berharap PT Liga Indonesia Baru (LIB) benar-benar tegas. Semoga masalah ini cepat diselesaikan,’’ ungkapnya.


General Manager APPI Ponaryo Astaman berharap yang sama dengan Abanda dan Dimas. Dia ingin keputusan NDRC dijalankan. Bukan hanya oleh Kalteng Putra, tapi juga empat klub lainnya, yakni PSMS Medan, Perserang Banteng, PSKC Cimahi, dan PSPS Riau.


’’Klub-klub itu harusnya dilarang mendaftarkan pemain baru sesuai dengan keputusan NDRC yang melarang melakukan transfer selama tiga periode,’’ tegasnya.


APPI saat ini masih menunggu balasan surat dari PSSI. Balasan atas surat korespondensi dari APPI atas tanggapan SK PSSI terbaru mengenai pemotongan gaji.


’’Kami masih menunggu balasan mengenai SKEP/53/VI/2020. Karena kalau tidak diperjelas, SK itu akan makin terbukti tidak ampuh untuk renegosiasi klub dengan pemain,’’ bebernya.


Buktinya adalah mengenai keputusan NDRC kepada pemain PSKC. Dalam SK PSSI awal Maret lalu, disebutkan gaji pemain dibayarkan maksimal 25 persen dari nilai kontrak.


’’Tapi ternyata ada pemain yang tidak setuju dan lapor ke NDRC. Lalu diputuskan pemain itu menang dalam gugatan. PSKC diminta bayar 100 persen, tidak sesuai dengan SK PSSI,’’ terangnya.


APPI saat ini juga menunggu ketegasan dari LIB terkait larangan mendaftarkan pemain kepada lima klub yang sudah diputuskan oleh NDRC. ’’Agar masalah seperti ini benar-benar diperhatikan dan tidak ada lagi di Sepakbola Indonesia,’’ paparnya.



Share on: