Breaking News
Pertahankan Skuad Juara, Inilah Daftar 23 Pemain Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-17     Ondrej Kudela: Saya Tidak Ragu Untuk Membawanya Ke Republik Ceko     Dimas Drajad Bersiap Bawa Timnas Indonesia Juara AFF 2022, Baggott Terancam Absen     BLV Quang Huy : Indonesia Era STY Sangat Sulit Dikalahkan     Sepi Penonton, Ketua PSSI Berdalih Lawan Tak Terkenal Dan Akan Edukasi Supporter    
Legenda Persebaya, Tarkam dan Memori Massa Muda
11 September 2020 | 17:00 WIB oleh Amirul Mukminin
SepakbolaNasional - @Bola.com ± 2 tahun yang lalu
298   x
Share on:
(Legenda Persebaya, Tarkam dan Memori Massa Muda) - @Bola.com - Ibnu Grahan Saat Melatih Bonek FC pada Tahun 2015
Keterangan gambar : Legenda Persebaya, Tarkam dan Memori Massa Muda Ibnu Grahan Saat Melatih Bonek FC pada Tahun 2015 (Sumber gambar:@Bola.com)

Cerita Ibnu Grahan, Gabung Persebaya Setelah Jadi Pemain Terbaik dan Top Scorer Turnamen Tarkam


Liga123 - Sosok Ibnu Grahan pernah lekat dengan Persebaya Surabaya. Ketika masih jadi aktif sebagai pemain, pria kelahiran 23 Juli 1967 ini jadi bagian Bajul Ijo saat meraih trofi juara Perserikatan 1987-1988.


Bersama klub kebangaan Bonek itu pula, Ibnu Grahan juga mencetak prestasi dengan raihan gelar juara di turnamen bergengsi seperti Piala Persija pada 1988, Piala Tugu Muda Semarang 1989 dan Piala Utama 1990.


Setelah gantung sepatu, Ibnu melanjutkan karirnya dengan menjadi bagian dari tim Pelatih (juru taktik) Persebaya saat juara Divisi Satu pada 2003 dan 2006 serta Juara Liga Indonesia 2004. Dalam channel youtube Omah Bal-balan, Ibnu mengaku sebenarnya tak pernah membayangkan bisa berkarier sebagai pemain dan Pelatih (juru taktik) Sepakbola.


Saat menempuh pendidikan sampai bangku SMA, ia lebih fokus belajar. Setelah lulus SMA, ia pun mengikuti seleksi masuk Akademi Militer di Magelang.


Gagal menjadi prajurit justru jadi titik balik kehidupannya. Sepulang dari Magelang, ia diajak Nicky Putiray, paman Rochi Putiray mengikuti sebuah turnamen Sepakbola antarkecamatan di Surabaya.


"Itu pun saya tak langsung menerima karena saya tak pernah berpikir jadi pemain. Ketika di SMA, saya malah aktif sebagai pemain band aliran rock metal," kenang Ibnu.


Insting dan kejelian Nicky melihat potensi tersembunyi dalam diri Ibnu membuatnya terus membujuknya. "Akhirnya saya mengiyakan setelah om Nicky bilang tim kecamatan saya kekurangan satu pemain."


Dalam turnamen itu pula jadi awal karier Ibnu di Sepakbola. Ia menjadi pemain terbaik dan top scorer dalam ajang yang diadakan di Stadion Gelora 10 November, Surabaya.


Setelah meraih penghargaaan, Ibnu dipanggil menghadap Poernomo Kasidi, Wali Kota yang juga Ketua Umum Persebaya yang hadir pada acara penutupan turnamen. Ibnu pun ditawari bermain di Persebaya. Seperti sebelumnya, Ibnu spontan menolak.


"Ajudan Wali Kota sampai gemes karena saya mengaku tidak tahu Persebaya. Tapi, akhirnya tawaran itu saya terima karena enggak enak sama Pak Poernomo," ungkap Ibnu.


Esok harinya, Ibnu pun datang ke lapangan Persebaya untuk memenuhi permintaan Poernomo. Awalnya pun tak mulus, karena Ibnu sempat berpikir untuk pulang.


"Saat datang ke lokasi latihan, saya ketemu Seger Sutrisno. Dia ngeledeksaya. Untung ada Usman Hadi, teman sepermainan yang mengajak saya menemui Pelatih," kisah Ibnu Grahan.


Sepak Bola Gajah


Kala itu, Persebaya ditangani Rusdi Bahalwan dan Soebodro. Ibnu Grahanpun diwanti-wanti agar serius mengikuti latihan.


"Pak Rusdi bilang meski saya masuk ke Persebaya berkat rekomendasi ketum Persebaya, status saya adalah pemain seleksi. Saya mengiyakan saja dan akhirnya terpilih masuk Skuad Persebaya," ungkap Ibnu.


Kiprah awalnya bersama Persebaya, Ibnu mengalami pengalaman tak enak meski menjadi bagian dari Bajul Ijo meraih trofi juara Perserikatan 1987-1988. Pada musim itu, kiprah Persebaya sempat ternoda dengan kasus Sepakbola Gajah, di mana Persebaya terkesan mengalah saat ditekuk Persipura Jayapura 12 gol tanpa balas di Stadion Gelora 10 November.


Kekalahan telak itu sekaligus memupuskan harapan PSIS Semarang yang berambisi ke 6 Besar sekaligus mempertahankan gelar.


Menurut Ibnu sebelum pertandingan seluruh pemain dikumpulkan oleh Agil Haji Ali, Manajer Persebaya. Berdasarkan kesepakatan manajemen, Persebaya memilih melepas pertandingan itu dengan memainkan pemain muda.


"Saya termasuk pemain yang tampil. Itu kali pertama saya bermain selama 90 menit. Dimana Sebelumnya, saya hanya dua kali tampil, itu pun hanya 10 dan 15 menit," ungkap Ibnu.


Pada musim berikutnya, Ibnu sudah bermain reguler sebagai starter Persebaya. Sayang, Persebaya akhirnya gagal mempertahankan gelar setelah dikalahkan Persib bandung 0-2 pada laga final yang diadakan di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 11 Maret 1990.


Tapi, pada tahun itu, Persebaya tak sepenuhnya gagal setelah meraih trofi juara Piala Utama, sebuah ajang yang mempertemukan klub elit Perserikatan dan Galatama.



Share on: