Breaking News
Sepi Penonton, Ketua PSSI Berdalih Lawan Tak Terkenal Dan Akan Edukasi Supporter     Dipermalukan Indonesia, Pelatih Curacao: Di Laga Kedua Kami Tunjukkan Level Sesungguhnya     Rekor Fantastis Curacao vs Negara Asia, Tapi Indonesia Berpeluang Besar Cukur Curacao     ANALISIS | Kenapa Fachruddin Masih Dipanggil ke Timnas yang Makin Muda?     Elkan Baggott Berminat Bela Klub Indonesia, Tapi Setelah Mengejar Mimpi Di Inggris    
Presiden Klub Liga 2 Sebut Subsidi dari PT LIB Seperti Rokok Eceran
16 Oktober 2020 | 05:27 WIB oleh Amirul Mukminin
Liga2 - @JawaPos.com ± 2 tahun yang lalu
229   x
Share on:
(Presiden Klub Liga 2 Sebut Subsidi dari PT LIB Seperti Rokok Eceran) - @JawaPos.com - Presiden PS Hizbul Wathan Dhimam Abror
Keterangan gambar : Presiden Klub Liga 2 Sebut Subsidi dari PT LIB Seperti Rokok Eceran Presiden PS Hizbul Wathan Dhimam Abror (Sumber gambar:@JawaPos.com)

Subsidi Rp 25 Juta, Bos Tim Liga 2: Seperti Manajemen Rokok Eceran


Liga123 - Sama halnya dengan klub-klub Liga 1, 24 klub Liga 2 menyatakan diri akan tetap meneruskan kompetisi. Tetap berkomitmen mengikuti kompetisi Liga 2 musim ini pada minggu kedua November mendatang. Meski, risikonya sangat berat. Di antaranya adalah masalah finansial.


Ini tentu yang jadi perhatian PT Liga Indonesia Baru (LIB). Karena itu, dalam club meeting dengan klub Liga 2 Selasa lalu (13/10), LIB memberikan ’’bonus’’ subsidi kepada 24 klub. Bonus sebagai kompensasi penundaan kompetisi hingga November mendatang.


Direktur Utama LIB Akhmad Hadian Lukita berbicara, setiap klub akan mendapat dana Rp 25 juta sejak Oktober. ’’Itu memang kebijakan dari PSSI. Dengan penundaan ini, istilahnya klub sudah persiapan, tapi tidak bisa diwujudkan dalam kompetisi. Itu sebagai kompensasi,’’ paparnya.


Apakah cukup? Lukita menyadari nilai itu masih jauh dari apa yang diharapkan. Tapi, kompensasi yang diberikan menurutnya sudah maksimal. LIB sendiri sudah mencarikan dana sekuat tenaga agar klub-klub Liga 2 bisa survive hingga kompetisi kembali digulirkan. ’’Doakan saja semua bisa berjalan dengan lancar,’’ bebernya.


Bagaimana respons klub? Presiden PS Hizbul Wathan Dhimam Abror menuturkan, subsidi Rp 25 juta itu jauh dari harapan. ’’Hampir semua klub saat diberi tahu tambahan subsidi itu bilangnya kurang. Karena rata-rata meminta Rp 100 juta,’’ jelasnya.


Bagi PSHW, sebenarnya tidak masalah dengan mundurnya kompetisi. Asalkan, selesainya tepat waktu. Yakni, sesuai dengan kesepakatan awal, Februari. Hal itu disebabkan dana yang dipunyai PSHW hanya cukup hingga kompetisi musim ini selesai.


Andai saja ada mundur-mundur lagi, malah jika batal pada November, mundur Desember atau bahkan Januari tahun depan, pihaknya tidak tahu lagi bagaimana mencarikan dana untuk ikut berkompetisi. ’’Anggaran kami insya Allah siap sampai akhir kompetisi,’’ paparnya.


Tapi, Abror pun tak lepas mengkritik cara LIB dalam memberikan tambahan subsidi. Dia menyebut, cara pemberian dana tambahan subsidi Rp 25 juta mulai Oktober ini menunjukkan manajemen LIB tidak bagus dalam mengelola kompetisi.


’’Seperti manajemen rokok eceran. Ngasihtambahan subsidi hanya Rp 25 juta. Padahal, kami kan tahu berapa uang LIB yang didapat dari komitmen dengan sponsor,’’ paparnya.


Menurut dia, LIB sama sekali tidak menyadari bagaimana sulitnya klub saat ini. Selain harus menghadapi pandemi korona, klub-klub harus dipaksa melakukan persiapan tanpa kejelasan. ’’Rata-rata klub pasti ngos-ngosan mengatasi biaya rutin dan biaya kompetisi,’’ ujarnya.



Share on: