Breaking News
Pertahankan Skuad Juara, Inilah Daftar 23 Pemain Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-17     Ondrej Kudela: Saya Tidak Ragu Untuk Membawanya Ke Republik Ceko     Dimas Drajad Bersiap Bawa Timnas Indonesia Juara AFF 2022, Baggott Terancam Absen     BLV Quang Huy : Indonesia Era STY Sangat Sulit Dikalahkan     Sepi Penonton, Ketua PSSI Berdalih Lawan Tak Terkenal Dan Akan Edukasi Supporter    
Demi Nafkahi Keluarga, Pelatih Asal Lamongan ini Rela jualan Soto Hingga Jadi Kuli Bangunan
25 Januari 2021 | 17:31 WIB oleh Amirul Mukminin
SepakbolaNasional - @Bola.com ± 2 tahun yang lalu
1 k   x
Share on:
(Demi Nafkahi Keluarga, Pelatih Asal Lamongan ini Rela jualan Soto Hingga Jadi Kuli Bangunan) - @Bola.com - M. Choirul Huda adalah sosok kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab terhadap kelangsungan ekonomi istri dan ketiga anaknya.
Keterangan gambar : Demi Nafkahi Keluarga, Pelatih Asal Lamongan ini Rela jualan Soto Hingga Jadi Kuli Bangunan M. Choirul Huda adalah sosok kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab terhadap kelangsungan ekonomi istri dan ketiga anaknya. (Sumber gambar:@Bola.com)

Perjuangan Mantan Pelatih (Juru Taktik) Persis Solo Bertahan di Tengah Pandemi: Jualan Beras, Soto, hingga Kerja Bangunan

Liga123 - M. Choirul Huda adalah sosok kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab terhadap kelangsungan ekonomi istri dan ketiga anaknya.

Pria yang pernah menjadi Pelatih (juru taktik) kepala di Persis Solo di Liga 2 2019 ini pantang menyerah mengais rejeki di tengah impitan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Ketika pendapatannya merosot karena kompetisi sepakbola di Indonesia dihentikan, lelaki yang akrab disapa Cak Irul ini melakukan pekerjaan apa saja agar keluarganya tetap bisa makan.

Pada awal merebaknya COVID-19 lalu, Cak Irul berjualan beras. Waktu itu, omzetnya lumayan bagus. Kendati Demikian akhir-akhir ini usahanya mulai menurun.

"Saya buka warung soto lagi. Jualan beras mulai sulit, karena masyarakat sudah dapat beras subsidi dari Pemerintah. Omzetnya juga terus turun," ungkapnya.

Mantan Asisten Pelatih (juru taktik) Perseru Serui ini memang pernah buka kuliner soto khas Lamongan ketika Sepakbola Indonesia vakum akibat PSSI disanksi FIFA pada 2015.

"Dulu saya buka warung soto di jalan desa. Sekarang jualannya di rumah saja. Saya tak perlu sewa tempat usaha dan bisa mengawasi anak-anak," ujar Pelatih (juru taktik) Kelahiran Lamongan ini.

Demi Keluarga

Karena dia pernah bisnis soto, maka usaha rumahan ini pun bisa berjalan lancar.

"Saya terpaksa kontak lagi orang-orang yang pernah jadi pelanggan soto saya. Saya beritahu kalau saya buka warung lagi, tapi sekarang di rumah. Alhamdulillah sudah mulai ada yang datang," ujarnya.

Yang menarik, sebelum buka warung soto lagi, Cak Irul sempat kerja di proyek bangunan selama dua bulan. Dia jadi pengawas pada proyek pembangunan tower cooling Molindo di Lawang. Pabrik yang memproduksi ethanol dan alkohol.

"Pekerjaan saya di proyek serabutan. Tugas utama sebagai pengawas. Tapi kalau tenaga di bangunan kurang, saya jadi tukang atau kuli. Proyek di Lawang sudah selesai, jadi saya menganggur. Daripada diam, saya buka warung lagi. Semua pekerjaan saya akan lakukan, asal halal. Situasi sekarang lebih susah dibanding saat PSSI dihukum FIFA 2015 lalu," tuturnya.


Share on: